Thought via Path
Kalo mau tau seseorang itu jodoh lo ato bukan, segera lo tanya dia dgn prtanyaan, ‘hari ini mau kmn?’ Kalo jawabannya ‘ga kemana2’, berarti org itu jodoh lo. Krna kalo jodoh ga akan kemana. Sekian. – Read on Path.
“But love is always new. Regardless of whether we love once, twice, or a dozen times in our life, we always face a brand-new situation. Love can consign us to hell or to paradise, but it always takes us somewhere. We simply have to accept it, because it is what nourishes our existence. If we reject it, we die of hunger, because we lack the courage to stretch out a hand and pluck the fruit from the branches of the tree of life. We have to take love where we find it, even if that means hours, days, weeks of disappointment and sadness.
The moment we begin to seek love, love begins to seek us. And to save us.”
― Paulo Coelho, By the River Piedra I Sat Down and Wept (via justbesplendid)
Inna Sukuuta Al-Aqwiyaa Laisa Dha’fun. Innamaa Huwa Furshatun Lid-Dhu’afaa an Yatakallamuu Qabla an Yasmuthuu Lil-Abad - Diamnya Orang-Orang yang Kuat, bukan Mencerminkan Kelemahan. Namun ia Memberikan Kesempatan kepada Orang-Orang Lemah untuk Puas Hati Berbicara, Sebelum Mereka Dibungkam dan Diam Selamanya
Pepatah Arab (via pejuangperadaban)
Bersalah - (Fahd Jibran)
Apa yang mustahil tak dimiliki semua manusia? Barangkali rasa bersalah.
Manusia berjalan dengan rasa bersalahnya masing-masing. Tak tertolak. Demikianlah, barangkali rasa bersalah telah menjadi semacam gen bawaan yang tertanam dalam diri setiap manusia. Kita tahu, Tuhan menciptakan manusia melalui satu episode yang akan membuatnya merasa bersalah sepanjang sejarah. Adam yang dibela, dianakemaskan, pada akhirnya harus mengecewakan Tuhan dengan mendekati pohon dan menggigit buah terlarang, bukan? Dari sana, fragmen selanjutnya dari kisah hidup manusia adalah tentang rasa bersalah: Hawa yang merasa bersalah pada kekasihnya, Adam yang merasa bersalah pada Tuhan. Lalu mereka berdua diturunkan ke “dunia”—alam rendah tempat manusia menebus rasa bersalahnya.
Dari kisah itu, sebenarnya Tuhan tengah memberi tahu kita bahwa tak ada yang salah dengan rasa bersalah. Rasa bersalahlah yang membuat kata “maaf”, dengan segala imbuhan yang mungkin dikenakan kepadanya, selalu menghadirkan momen paling indah dalam semua kisah.
Apa yang mungkin tak dimiliki semua manusia? Barangkali pengakuan tentang rasa bersalah.
Pagi ini, rasa bersalah menguasai hati dan pikiranku. Kilas-balik dari semua dosa, luka, dan aniaya berlesatan dari dalam pikiran dan perasaanku. Maka maafkan aku: Untuk apapun, untuk siapapun. Untuk hal-hal yang terkatakan dan yang tak terkatakan. Maafkan aku sebab aku tak punya pilihan lainnya.
Dan aku sudah memaafkanmu, bagaimanapun, jauh sebelum kau memintanya. Semua yang salih memiliki masa lalu dan semua pendosa memiliki masa depan. Di atas semuanya, semoga Tuhan mengampuni kita semua, untuk rasa bersalah apapun yang pernah ada di dalam dada.
*Mengusir homeless yaang tidur di pekarangan tumblr* sudah lama tidak saya buka, sudah lama tidak melihat kata-kata sehebat ini.
Faruq telat gaul
Sesuatu yang kau tunda akan menggumpalkan kekuatan untuk memburumu tanpa ampun
Fahd Djibran (via widyarifianti)
Orang-orang selalu berpikir dari mana mereka berasal tanpa pernah berpikir kemana mereka akan pergi
Fahd Djibran (via widyarifianti)
